Saturday, February 11, 2017

Pendakian Gunung Cikuray Via Kiara Janggot


Kabupaten Garut, adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Tarogong Kidul. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Sumedang di utara, Kabupaten Tasikmalaya di timur, Samudera Hindia di selatan, serta Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung di barat.
Ibukota Kabupaten Garut berada pada ketinggian 717 mdpl dikelilingi oleh Gunung Karacak (1.838 mdpl), Gunung Cikuray (2.821 mdpl), Gunung Papandayan (2.622 mdpl), dan Gunung Guntur (2.249 mdpl).

Dengan pesona alam pegunungan inilah, Garut menjadi salah satu alternatif tujuan pendakian di wilayah Jawa Barat. Setidaknya ada tiga gunung di wilayah Garut yang sangat familiar dan bisa didaki secara estafet yaitu Cikuray, Papandayan dan Guntur. Atas dasar lokasi gunung yang saling berdekatan inilah, maka saya (Alas Perdu), Afan dan Agus memutuskan untuk mendaki  dua gunung sekaligus dalam dua hari di wilayah Garut yaitu gunung Cikuray dan Papandayan. Kami bertiga tergabung dalam satu komunitas Pendaki Laka-Laka yang ber-homebase di Kota Tegal

Gunung Cikuray adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia. Gunung Cikurai mempunyai ketinggian 2.821 meter di atas permukaan laut dan merupakan gunung tertinggi keempat di Jawa Barat setelah Gunung Gede. Gunung ini berada di perbatasan kecamatan Bayongbong, Cikajang, dan Dayeuh Manggung.

Setelah mengumpulkan informasi dari beberapa rekan pendaki yang sudah menjajaki medan gunung Cikuray, kami dipandu untuk melewati Basecamp Bayongbong. Trek pendakian via bayongbong boleh dibilang “aduhay”. Mungkin 11:12 seperti jalur pendakian gunung Ciremai via Linggarjati. Tanjakan lewat Bayongbong serasa tanjakan Bapa Tere-nya gunung Ciremai.

Disisi lain, kita juga mendapatkan informasi langsung dari Rekan di BC Bayongbong untuk mencoba jalur baru melewati Basecamp Kiara Janggot. Kiara Janggot merupakan jalur baru pendakian gunung Sikuray dan yang baru saja dibuka di akhir tahun 2015. Atas dasar dua informasi inilah kami memutuskan untuk “mencicipi” dua jalur pendakian ini. Naik melewati jalur Kiara Janggot dan turun melalui jalur Bayongbong.

Setelah menyiapkan segala sesuatunya, perjalanan kami mulai jam 9 malam dari Basecamp Pendaki Laka-Laka di Kota Tegal. Perjalanan menggunakan kendaraan bus besar jurusan Bandung dan turun di bundaran Cilenyi kurang lebih 5 jam perjalanan. Dari bundaran Cilenyi dilanjutkan dengan bus jurusan terminat Guntur (Garut) dan memakan waktu 1 jam. Sesampainya di Terminal Guntur kita bisa berbelanja logistik untuk pendakian, karena lokasi terminal dekat dengan pasar.


Perjalanan dilanjutkan dengan angkutan umum ataupun pick up menuju basecamp Kiara Janggot.


Setelah tawar menawar harga, kami bertiga “diloading” menggunakan pick up hingga sampai di BC Kiara Janggot. Mendekati BC,medan begitu menanjak, pick up yang kita “carter” harus extra hati-hati karena jalan berbatu, berlubang dan bergelombang. Perjalanan kurang lebih 45 menit dari terminal Guntur menuju BC. Dan sekitar pukul 8 pagi sampailah kita di BC Kiara Janggot.




Bagi kamu yang turun di terminat Guntur bisa juga menggunakan angkutan 06 warna kuning jurusan Cilawu, kemudian turun di pangkalan ojek Genteng. Dan kemudian dilanjutkan dengan ojek menuju BC Kiara Janggot



Basecamp – Pos 1
Setelah cukup beristirahat, sarapan dan re-packing bawaan kita, sekitar pukul 10 siang kita memulai perjalanan dari BC Kiara Janggot. Tidak lupa sebelum pendakian kita mendatakan diri kita dan menyelesaikan simaksi di BC.


Medan yang di awal perjalanan berupa jalan perkampungan berbatu. Dilanjutkan dengan ladang penduduk berupa tanaman cabai, kol dan juga padi.


Trek Jalur menuju Pos 1 sedikit menanjak. Terik panas sangat terasa karena matahari langsung ke badan kita tanpa terhalang pepohonan besar sama sekali.

Mendekati Pos 2 kita baru melihat rerimbunan pohon besar sebagai tanda bahwa pos 2 sudah dekat. Berdasarkan catatan kami kurang lebih sejauh 2.100m dan membutuhkan waktu 1 jam hingga di Pos 2. Jalur menuju pos 2 merupakan jalur terpanjang selama pendakian via Janggot.

Pos 1 – Pos 2



Area di pos 1 tidak luas, cukup untuk 1-2 tenda saja. Perjalanan menuju pos 2 melewati hutan. Medan menuju pos 2 menanjak dan lumayan menguras tenaga.

Kurang lebih jarak yang ditempuh 660m dan waktu tempuh kita selama 40 menit.

Pos 2 – Pos 3

Pos 2 merupakan area sumber air. Di pos 2 ini kurang lebih cukup untuk 2-3 tenda. Disini air sangat jernih sekali dan rasanya pun sangat alami tidak kalah dengan air kemasan. Medan masih menanjak melewati pepohonan besar serta semak belukar. Detengah perjalanan kami diguyur hujan deras disertai suara petir yang sering terdengar. Jarak dari pos 2 ke pos 3 kurang lebih 335m dan membutuhkan waktu 25 menit untuk sampai di pos 3.

Pos 3 – Pos 4
Medan dari pos 3 menuju pos 4 menanjak , jalur dilalui rapat dengan pepohonan. Adakalanya jalur yang kami lewati seperti aliran sungai karena kondisi masih diguyur hujan.

Jarak yang ditempu menuju pos 4 kurang lebih 630m dan kami membutuhkan waktu sekitar 35 menit untuk sampai di pos 4

Pos 4 – Pos 5
Menuju pos 5 medan semakin merapat dan tanjakan semakin terasa berat. Beban semakin terasa berat ketika kontur tanah licir karena air hujan dan beban yang kami panggul bertambah berat karena basah.

Jarak yang kami tempuh berkisar 740m sedangkan waktu tempuh kurang lebih 40 menit.

Pos 5 – Pos 6
Menuju pos 6 jalur makin membuat frustasi. Sesekali kami harus sering berpegangan akar atau dahan yang merambat di permukaan tanah.

Jalur makin rapat dan karena ini jalur baru di jalur ini jarang kami temui sampah-sampah pendaki. Hanya berbekal tanda berupa pita atau sayatan yang telah dibuat pengelola jalur Jenggot kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 6.


Kurang lebih kami berjalan sejauh 700m selama 50 menit.

Pos 6 – Pos Persimpangan

Dari pos 6 menuju area persimpangan kondisi fisik makin kelelahan setelah diguyur hujan sepanjang perjalanan. Sangat dianjurkan siapkan fisik prima dengan berlatih atau berolah raga ketika memutuskan mendaki melewati jalur Jenggot dan mendakilah ketika cuaca terang atau bukan musim hujan. Kurang lebih kami berjalan selama 30 menit sampai di persimpangan. Persimpangan ini merupakan pertemuan antara jalur via Jenggot danjalur pendakian via pemancar.

Pos Persimpangan – Pos 7


 Setelah melewati persimpangan, kita akan menjumpai medan makin terjal.

30 menit dari persimpangan kami bertiga sudah sampai di pos 7

Pos 7 - Puncak
Menuju puncak jalur masih rapat dengan pepohonan, kurang lebih butuh waktu 35 menit menuju puncak


Dari pos 7, puncak masih belum terlihat jelas. Hal ini disebabkan gunung Cikuray merupakan gunung yang rapat dengan pepohonan dari bawah hingga kawasan puncak. Ini berbeda dengan gunung berapi pada umumnya. Umumnya gunung berapi ketika mendekati kawasan puncak atau batas vegetasi hanya tanaman perdu dengan tinggi sedang atau bahkan bebatuan dan pasir yang dijumpai. Berbeda sekali dengan gunung Sikuray, bahkan di Sikuray tidak dijumpai tanaman Edelwise.



Mendekati puncak Sikuray kita bertemu dengan selter yang sangat luas. Kawasan ini cocok sekali untuk mendirikan tenda dan bermalam. Jarak menuju puncak dari sini sangatlah dekat. Kurang lebih 5 menit tanpa beban kita sudah sampai di puncak Sikuray. Di selter ini kami memutuskan untuk camp semalam dan memulihkan stamina untuk esok harinya.


Sekitar pukul lima pagi kita meluncur dari selter (camp area) ini. Semburat cahaya merah mulai tampak perlahan, semakin jelas dan semakin terang.


Dan ….
Wow…….
Pemandangan sunrise dari puncak Sikuray sangat luar biasa sekali pagi itu. Gunung Ciremai tampai di sisi timur laut sedangkan puncak gunung Slamet tampak megah tepat didepan kami (sisi timur).


Terbayar sudah perjalanan kami, meski harus diguyur hujan hampir sepanjang perjalanan. Akhirnya kami bisa berada di puncak gunung Cikuray 2.821 mdpl.


Berjalanan kami belum usah sampai disini. Kami harus segera bergegas turun untuk melanjutkan perjalanan kami menuju puncak gunung Papandayan di hari yang sama (bersambung....)

Berikut adalah trekking map dari GPS yang kita gunakan kita selama pendakian gunung Cikuray melalui jalur Kiara Janggot (soon - on progress).

Story : Alas Perdu

Pendaki Laka-Laka Hijaukan Pantai Muarareja

Hai gaes, ketemu lagi sama agenda Pendaki Laka-laka nih, kali ini kami mengadakan kopdar yang lain daripada yang lain dan tentunya beda dari kopdar-kopdar sebelumnya yang ada di Pendaki Laka-laka. Apaan sih yang bikin beda? Simak terus ya... 



Biasanya pada agenda-agenda kopdar sebelumnya kita ngadain kopdar pada sore atau malam hari nih gaes, nah yang bikin beda dari agenda kopdar bulanan kali ini adalah karena kopdar kali ini diadakan pagi hari diikuti dengan penanaman 200 bibit pohon cemara laut, yaitu pada Minggu (6/12/2015). Pada kopdar kali ini kami menggandeng rekan-rekan PMR SMK 1 Muhammadiyah Tegal dan My Trip My Adventure Tegal.
"Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita, tetapi kita meminjamnya dari anak cucu kita. Lestarikan alam, tempat kita bernaung." Begitulah sebuah pesan yang tertera di banner yang terpampang dalam agenda Kopdar (Kopi darat) bulanan Pendaki Laka-laka sekaligus penanaman 200 bibit pohon cemara laut ini.
Ummm pesan yang lumayan berkesan ya gaes? Dimana kita diberi amanah besar untuk menjaga alam sebagai tempat kita bernaung, alam sudah memberikan segala manfaat bagi kita semua sesuai perintah Tuhan. Seperti yang dikatakan ketua Pendaki Laka-laka, Indra Wiratama dalam sambutannya Minggu (6/12/2015) bahwa semua daun-daun yang ada di bumi bahkan berdzikir kepada Allah, mengingat Allah, memuji kekuasaan-Nya. Lalu bagaimana dengan kita sebagai makhluk yang berakal? Tentu kita tidak hanya bisa berdzikir namun juga merawat dan menjaga alam yang sudah Allah berikan secara cuma-cuma gratis tisss untuk bumi pertiwi Indonesia ini. 


Agenda ini diawali dengan apel pagi pada pukul 07.00 waktu setempat yang di pimpin oleh Alas Perdu sebagai ketua divisi komunikasi dan informasi komunitas Pendaki Laka-laka, di sambut oleh Bapak Zaenal Azikin sebagai Kepala Desa Muarareja dan Bapak Wage Suwardi selaku Ketua Pokdarwis Pantai Muarareja Indah, dilanjutkan penyerahan simbolis bibit pohon cemara laut oleh Ketua Komunitas Pendaki Laka-laka kepada Kepala Desa Muarareja dan Ketua Pokdarwis Pantai Muarareja Indah. 

Penanaman ini dilakukan disepanjang tepian pantai Muarareja Indah nih gaes oleh kurang lebih 60 peserta dari panitia, rekan PMR, masyarakat umum dan komunitas lain. Seru deh pokoknya.... nyesel tuh yang gak ngikut, hihi..

Setelah penanaman selesai yang kira-kira menghabiskan waktu selama dua jam, pada pukul 09.00 waktu Indonesia bagian Muarareja Indah seperti yang sudah di agendakan bahwa akan ada Mountaineering Sharing. Nah Mountaineering Sharing kali ini mengangkat tema 'Managemen Keselamatan dan Kesehatan di Alam Bebas'. Duh! Mengingat begitu pentingnya managemen keselamatan dan kesehatan di alam bebas yah gaes? Untuk kita yang mengaku suka atau sering beraktifitas dan berkegiatan di alam bebas, dalam hal ini mendaki gunung tentu menjadi hal wajib bagi kita untuk tau tentang ini. 


Mountaineering sharing kali ini dibawakan oleh teman kita Nur Mumtahana (Hana) dan Oktaviani (Okta), di moderatori oleh saudari Meutia Bintan Sakinati (Meutia). Diawali oleh Okta yang membahas beberapa kasus kegawatdaruratan yang bisa atau biasa terjadi di gunung seperti hypothermia, tersedak, sinkope, dehidrasi, asma, mountain sickness, gigitan ular berbisa, trauma spinal, beserta penanganan dan prakteknya. Kemudian dilanjutkan oleh Hana yang membahas pingsan, perdarahan, dan penanganan luka terbuka maupun luka tertutup. 


Sharing kali ini benar-benar seru, komunikasi dua arah antara komunikan dengan komunikator juga saling berbagi pengalaman dari beberapa peserta semakin menambah keseruan sharing. 


Sekali lagi, bahwa managemen keselamatan dan kesehatan di alam bebas ini penting sekali diketahui sebagai persiapan menuju piknik yang sehat. Piknik sehat itu apa sih? Piknik yang sehat adalah piknik yang matang persiapannya dan tentunya persiapan itu gak hanya perlengkapan individu maupun kelompok dan logistik aja ya gaes, namun seperti obat-obatan, alat-alat penunjang kesehatan dan keselamatan seperti kotak P3K, tabung oksigen, meskipun terlihat kecil tapi memiliki segudang manfaat, karena kita gak pernah tau apa yang semenit terjadi didepan ya gaes? Dan gak kalah pentingnya lagi adalah persiapan fisik, sekali lagi jangan pernah memaksakan ego kita untuk mendapatkan kepuasan dalam piknik kalau diri kita sendiri gak mampu karena dalam kondisi kurang fit bahkan gak fit misalnya.
"Kurangi ego demi keselamatan pribadi, ukur kemampuan, latihan fisik, persiapan yang matang sesuai standar safety pendakian". Demikian Kepala Desa Muarareja yaitu Bapak Zaenal Azikin berpesan untuk menutup sesi Mountaineering Sharing kali ini. 
Beruntung sekali bagi masing-masing dari kita yang bisa menghabiskan waktu ditengah-tengah orang yang luar biasa, berkumpul dalam kegiatan yang bermanfaat, berbagi ilmu, berbagi pengalaman, menyambung tali silaturahim. Karena kebaikan sekecil apapun sudah Allah janjikan akan mendapat nilai dari sisi Allah.
Untuk pohon yang kami tanam hari ini semoga kelak lima atau sepuluh tahun kedepan kalian mampu bercerita tentang hari ini. Tumbuhlah subur pohon kami, jadilah peneduh kami. :)
Salam sehat? Nikmat..........!

Sunday, January 29, 2017

Wisata Curuh Bengkawah, Belik Pemalang


Kawasan Belik Pemalang memiliki pesona alam yang membuat kita kagum akan keindahannya. Salah satunya sunrise di Gunung Jimat/Mbelik. Terbukti ketika kami melakukan pendakian ke Gunung Jimat, 17 Agustus 2015, kealamian gunung tersebut masih terjaga dengan baik.

Selaian wisata alam Gunung Jimat, terdapat juga wisata air terjun di Curug Bengkawah. Sayang sekali kalau ketika turun dari pendakian Gunung Jimat dan tidak mampir ke kawasan Curug ini.

Tepatnya tanggal 18 Agustus 2015 selepas pendakian dari Gunung Jimat, kita tim dari Pendaki Laka-Laka Tegal diberikan kesempatan untuk menikmati indahnya wisata di Curug Bengkawah.


Curug Bengkawah terletak di Desa sikasur,  Kec. Belik, Pemalang. Lokasinya kurang lebih 200m ke Seletan dari arah pasar Rangdudongkal. Untuk menuju lokasi kita harus melewati persawahan dengan berjalan kaki ataupun menggunakan kendaraan bermotor. Jalan persawaan ini sangat sempit hanya bisa dilalui oleh satu motor saya, Kalaupun berpapasan, maka salah satu harus mengalah dan berhenti untuk menepi. Kurang lebih 300 meter dari jalan aspal setelah melewati jalan persawaan terdapat tempat parkir motor sekaligus tempat untuk membeli tiket masuk. Cukup murah hanya lima ribu rupiah per orang untuk masuk ke kawasan Curug Bengkawah. Hanya saja parkir motornya masih dibilang mahal, sepuluh ribu rupiah untuk satu motornya.


Setelah menitipkan kendaraan kita, perjalanan dilanjutkan dengan trekking jalan kaki sepanjang jalan persawahan. Lumayan juga, setelah melakukan pendakian semalah kita harus jalan kaki lagi nenuju Curug Bengkawah. Kurang lebih hanya sepuluh menit kita jalan kaki dari tempat parkir/tiketing, kisa sudah memasuki kawasan wisata alam Curug Bengkawah.


Curug Bengkawah terletak di koordinat Peta dan Koordinat GPS: 7°55’ LS dan 109° 50’ BT 7° 7' 49"S (- 7.130°)  109° 21' 28"E (109.358°). Curug Bengkawan memiliki dua air terjun yang berdampingan. Oleh karena itu Curug Bengkawah biasa disebut dengan Curug Kembar. Curug ini merupakan aliran dari sungai Kluweh. Tinggi curuh ini berkisar 20 meteran sedangkan kedalaman air kolamnya sekitar 3 meter. Kita tidak dianjurkan untuk berenang di kolam Curug Bengkawah ini.


Suasan di Curug Bengkawah masih begitu sepi, mungkin karena kondisi masih terlalu pagi, sekitar jam 8 pagi dan bukan hari libur. Hari Senin ketika orangorang sibuk ngantor atau sekolah, rombongan kita asik dengan suasana Curug Bengkawah. Dengan bebasnya peralatan pendakian kami bongkar. Menu sarapan pagi dan secangkir white coffer kami nyaman berada di Curug Bengkawah.


Sooo buat kamu-kamu yang ingin menikmati suasana alam, sesekali lakukanlah travelling atau perjalanan wisata alam di hari-hari non libur. Kita bakalan benar-benar bisa menyatu dengan alam tanpa banyak terganggu oleh wisatawan lainnya.



Selamat menikmati perjalanan wisata kamu. Jangan lupa kalau ke Belik Pemalang mampir ke wisata Curug Bengkawah dijamin kalian ga akan kecewa bisa datang ke tempat wisata ini.. Jangan lupa bawa pulang sampahmu .....

Oruxmaps Sebagai Alat Navigasi Pendakian


Kemajuan teknologi punya peranan penting bagi kemudahan kita dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Begitu juga dengan kemajuan teknologi informasi. Dulu kita hanya mengenal telefon rumah, kini media komunikasi semakin canggih hingga lahirlah gadget android. Dengan bentuk mungil tetapi fitur-fitur yang ada sangat membantu kita.

Dahulu sebagai panduan perjalanan kita biasa menggunakan peta berbentuk kertas atau hardcopy, kini dengan hadirnya android memberikan kemudahan berupa peta navigasi dalam bentuk digital. Ada beberapa aplikasi android yang memudahkan kita dalam melakukan perjalanan atau travelling, salah satunya yaitu Oruxmaps.

OruxMaps yaitu aplikasi Android yang berguna untuk menampilkan peta dan mencatat trakking selama perjalanan. Untuk bekerja dengan sempurna, aplikasi ini membutuhkan perangkat Android dengan dukungan minimal internal/eksternal GPS. Aplikasi ini gratis dan bias digunakan secara online maupun offline.

Oruxmaps dapat menampilkan kontur peta secara 3D. Bagi kamu yang hobby dengan kegiatan petualangan, aplikasi ini cocok digunakan sebagai alat bantu navigasi. Kita bisa merekam jejak perjalanan kita ataupun kita trekking back perjalanan yang sudah kita lalui. Dengan Oruxmaps setidaknya memudahkan kita menemukan arah lagi, ketika kita keluar dari jalur pendakian.

Dapatkan aplikasi ini di Play Store atau kunjungi di situs resminya http://www.oruxmaps.com. Untuk panduan step by step cara install dan penggunaannya, ikuti terus artikel kami berikutnya.
Berikut adalah hadil trekking Oruxmap Gunung Prau-Dieng yang saya lakukan pada tanggal 24 Mei 2015. Start dari Basecamp Kejajar dan turun melalui jalur Basecamp Patak Banteng.



Wisata Curug Cantel, Bumijawa Tegal


Tren wisata alam mungkin lagi booming-boomingnya. Tidak hanya kawasan pantai dan pegunungan saja yang selalu ramai dikunjungi kaum traveller. Wisata alam curug atau air terjun pun marak sekali. Dampak dari sebuah tanyangan film local “x”cm dan reality show M*M* membuat geliat wisata alam makin ramai. Bisa jadi kita dianggap kurang kekinian apablia kita tidak mengikuti hobby petualangan yang satu ini.

Wisata curug sebagai salah satu alternatif wisata alam mungkin dibilang yang paling marak digemari saat ini. Mungkin karena tidak membutuhkan peralatan yang harganya mahal. Wisata curug pun dibilang mudah, tidak membutuhkan tenaga dan fisik yang kuat dibandingkan dengan pendakian misalnya. Kegiatan mendaki gunung mebutuhkan fisik prima dan peralatan yang memadai.

Bumijawa yang terletak di kawasan Kabupaten Tegal merupakan salah satu tempat dengan pesona alam yang luar biasa. Kawasan yang berada di lereng gunung Slamet ini memiliki keindahan alam yang masih begitu alami. Terdapat banyak curug/ air terjun di kawasan ini. Salah satunya adalah Curug Cantel.


Curug Catel terletak di Pedukuhan Kalipedes, Desa Sigedong Kec. Bumijawa, Kabupaten Tegal. Kebetulan kami berasal dari Kota Tegal, tepatnya alun-alun Tegal. Dari alun-alun Tegal bisa menuju ke arah Slawi melalui jalur 1 (jalur bus Tegal-Puwokerto) Sesampainya di pertigaan Yomani Lebaksiu, ambil arah kiri melewati Bojong hingga sampai di pertigaan arah Guci-Bumijawa. Dari pertigaan Moga belok kanan kearah Bumijawa. Mengikuti jalan besar lurus melewati jembatan baru Bumijawa. Perjalanan cukup jauh dan akhirnya kami bertemu pertigaan lagi ambil kiri (arah Batumirah – Sirampog). Ketemu Perempatan Mentik masih lurus hingga menuju Desa Kalipedes dan bertemu dengan jembatan Kalipedes. Dari sini, mulailah perjalanan tracking.


Setelah sampai di lokasi kita bisa menitipkan kendaraan di parkiran, cukup murah lho sekitar lima ribu rupiah. Tetapi karena kami ditemani pemandu dari Tiga Surau (salah satu komunitas literasi di kawasan Tuwel Guci), motor kami titipkan disalah satu rekan dari Tiga Surau. Perjalanan dilanjutkan dengan trekking sejauh kurang lebih 400 meter. Menyisir sungai dengan bebatuan besar yang menghiasi sepanjang sungai. Sesekali harus terpaksa turun kesungai karena jalur memang digenangi air. Beberapa bebatuan cukup licin, sehingga harus berhati-hati karena rawan tergelincir.


Sepanjang perjalanan dipenuhi wisatawan yang penasaran dengan Curug Cantel. Maklum mungkin karena hari minggu, pengunjung Curug Cantel begitu banyak. Perjalanan trekking yang kami lakukan juga harus antri, pelan beriringan satu persatu. Sekesali kami harus memandu beberapa anak kecil karena kewalahan melewati jalur bebatuan.
Akhirnya setelah melewati tepian sungai dengan sesekali meloncat dan berpengangan dari bebatuan yang satu kebebatuan lainnya akhirnya kita sampai juga ke Curug Cantel.


Woowww… ternyata Curug Cantel lumayan tinggi, kurang lebih 60 meter tinggnya. Saatnya kami dan beberapa rekan dari komunitas literasi Tiga Surau mengabadikan momen kebersamaan kami di kawasan wisata Curug Cantel. Percikan air dari curug Cantel cukup kencang, meski lumayan jauh kami tetap basah karena percikan air ini. Kolam air di bawah pun cukup dalam sehingga pengunjung dilarang untuk turun ke kolam Curug Cantel.









Buat kamu yang ingin memanjakan diri dengan berwisata alam ke Bumijawa. Keindahan Curug Cantel bisa menjadi alternatif wisata kamu di Tegal. Tetapi jangan lupa, hormati alam ini, jaga keindahannya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Selamat berkunjung di Curug Cantel Bumijawa Kabupaten Tegal.