Tuesday, September 15, 2015

Rute Pendakian Gunung Jimat


Hallo gaes, ga kerasa bertemu HUT RI lagi, kali ini yang ke-70 tahun 2015. Pitulasan kemana masbro? Kaum petualang biasanya memanfaatkan momen tujuh belasan ini dengan upacara bendera di puncak gunung. Mendaki gunung yang sudah familiar nama mungkin terlalu mainstream dan pastinya puncak bakalan dipenuhi dengan pendaki. Bukan bermaksud menghakimi, tapi semenjak film 5cm apalagi acara realiti show my trip my adventure animo masyarakat akan kegiatan di alam bebas ini luar biasa sekali sambutannya termasuk juga dengan kegiatan mendaki gunung. 
 
Menjelang tanggal 17 Agustus, ada rekan satu komunitas di Pendaki Laka-Laka (PL) yang mengajak trekking ke gunung yang belum familiar namanya di kalangan pendaki. Penasaran juga, tanpa pikir panjang, saya menerima ajakan rekan. Rencana awal kami hanya berempat, setelah sounding kesana-kemari akhirnya tim Pendaki Laka-laka kali ini genap berjumlah sepuluh orang. Tujuan pendakian kali ini adalah Gunung Mendelem alias Gunung Jimat.. 

Gunung mendelem terletak di Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang dengan ketinggian 1.450 Mdpl. Menurut Sesepuh atau kuncen yang kami jumpai disana, gunung Mendelem biasa juga disebut gunung Jimat karena gunung yang dikeramatkan ini konon memiliki benda-benda pusaka yang terdapat di bukitnya. Sebagaimana kita tahu bahwa budaya kita masih meyakini benda-benda pusaka atau jimat. Jimat ini menurut sebagian orang memiliki kekuatan, kewibawaan dan keagungan bagi siapa saja yang memilikinya. Masih percaya juga gaes ? 

Tim kami memulai perjalanan dari Kota Tegal sekitar pukul 6 sore menuju ke arah Slawi. Dari kota Slawi dilanjutkan ke Jatinegara melewati jalanan yang masih dalam perbaikan, sehingga debu terasa berterbangan kemana-mana dan perih dimata. Perjalanan kami lanjutkan menuju Randudongkal dan berakhir di pasar Belik. Di lokasi ini kami menuju salah satu saudara rekan yang ikut dalam pendakian kali ini . Tak lupa kami melengkapi logistik yang belum terbawa. Setelah melakukan pembicaraan, kita dipandu untuk sowan dulu ke Juru Kunci (Kuncen) Gunung Mendelem.

 Belanja logistik @ Al** Mart 

Sekitar pukul 20.00 wib kita sampai juga di kediaman Sang Juru Kunci. Di kediaman beliau kita diwanti-wanti untuk menjaga sikap selama dalam perjalanan, karena gunung ini terkenal dengan kramatnya. Berdasarkan informasi dari beliau, pernah ada kasus empat orang yang naik dan tersesat sehingga kami diwanti-wanti agar hal serupa tidak terjadi pada rombongan kami.

 Kediaman Kuncen Gn. Jimat 

Bersama kuncen Gn. Jimat 

Gunung Mendelem. bukan seperti layaknya gunung-gunung yang sudah biasa didaki. Disana belum ada system simaksi, basecamp, peta pedoman pendakian atau bahkan gapura selamat datang di pintu masuk gunung. Bagi orang yang baru datang pasti akan bingung karena masuk jalur pendakiannya pun tidak jelas dan tanpa penunjuk arah. Hanya dari informasi penduduk sekitarlah yang menjadi panduan dan pedoman selama pendakian. 

Tak lupa sebelum tim berangkat kita sempatkan sholat Isya berjamaah di pondok pesantren yang lokasinya tidak jauh dari kediaman Juru Kunci. Dan sekitar pukul 20.30 wib kita memulai pendakian. Awalnya kita melewati jalan aspal perkampungan, rumah-rumah penduduk dan kemudian memasuki jalur yang kanan kirinya dipenuhi pohon bambu. 



Medannya masih lumayan landai. Begitu bertemu dengan pertigaan batu besar yang kanan kirinya terdapat pohon bambu yang lumayan besar kita mulai dibuat bingung. Kondisi gelap, tanpa petunjuk arah dan sama sekali tidak ada pendaki lain yang kita jumpai. Hanya suara soundsystem acara malam tirakatan yang sayup-sayup terdengan dari atas. 


Di pertigaan ini jalur kiri begitu landai, sedangkan jalur yang ke kanan naik cukup terjal. Kami memutuskan mengambil arah kanan. Baru beberapa meter saja jalur sudah luar mulai menanjak. Medan tanah yang kami injak sangat riskan, karena kontur tanahnya yang kering dan rapuh. Sesekali kami terpeleset karena tanah yang kami pijak longsor. 

Tim pun melanjutkan perjalanan, kali ini medan menurun dengan curam. Kami mulai ragu apakah jalurnya benar-benar jalur pendakian yang biasa didaki. Setelah berdiskusi dan mengecek jalur di depan, kami memutuskan untuk meneruskan jalur tadi. Dan setelah berjalan cukup jauh otak kami seperti buntu karena disana sama sekali tidak ada jalur, kecuali ilalang dan semak belukar. Jalur makin terjal, sesekali kami harus berpegangan bebatuan. Tanpa disadari kami mulai tersesat makin jauh. Kabut makin tebal, tetesannya embun makin terasa ketika angin makin kencang. Suara nyanyian tembang langgam Jawa dari bawah makin membuat suasana makin merinding. 

Tim sepertinya berada di punggungan bukit yang berbeda. Setelah berkumpul dan cek anggota tim satu persatu, kita kembali berdiskusi. Saya baru tersadar kalau ada rekan yang pernah trekking ge gunung iini. Untung ada sinyal handphone dan tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi untuk kepastian jalurnya. Benar saja dari informasi yang kami dapatkan, kami benar-benar salah jalur dan lumayan jauh menyimpang dari jalur semestinya. 

Kami memutuskan kembali ke titik awal kita tersesat. Wow. Jauh juga, hampir satu jam kita tersesat. Dan alhamdulillah kita menemukan jalur yang semestinya dilalui pendaki. Benar-benar jalan setapak, kanan kiri diapit pepohonan dan semak belukar. 

Suasana sangat sepi tidak seperti layaknya pendakian di moment tujuhbelasan. Di tengah jalan kami bertemu area yang sudah disiapkan tempat perapian. Kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Kami ternyata tidak sendiri diatas sudah ada dua warga lokal dengan hanya berbekal lampu senter dan air tremos. “Buntu mas. Buntu ……. Bukan puncaknya”, salah satu dari mereka menyapa kami. Saya bersama satu rekan penasaran, “Kok tidak ada jalan ya?. Kami berdua menuju jalur yang kedua orang tadi lewati. Deg..deg..deg.. aroma bunga melati dan dupa menyengat gaes. Ternyata ada sebuah petilasan disana. Konon diyakini sebagai petilasan Damar Wulan dan Raden Patah. Sesajen, bunga serta dupa menyan meghiasi petilasan tersebut. Ternyata ini petilasanlah yang biasa orang-orang tuju untuk tirakat meminta sesuatu atau sekedar mencari jimat (mungkin sih, maaf kalau salah dikoreksi). 

Tanpa pikir panjang kami berdua langsung putar balik. Ngeri juga berada disana. Kami kembali menuju lokasi perapian yang ternyata ada jalan. Jalur kekanan nampak tumpukan bebatuan. Salah satu rekan mencoba cek lokasi. Wooowwww ternyata kita sudah berada di puncak Gunung Mendelem (Jimat). Dan hanya ini satu-satunya camp area di lokasi puncak. Lumayan sempit hanya muat untuk 3 tenda itupun salah satu tenda kami berukuran kecil cuman 1 person. 

Tenda kami pasang, logistik mulai dikeluarkan dan api unggun kami nyalakan. Benar-benar nikmat gaes. Luar biasa sepinya. Ini baru namanya naik gunung., menyatu dengan alam. Tanpa ada suara bising sama sekali, hanya suara binatang malam membuat suasana makin nyaman. 
Hawa di puncak tidak begitu dingin, tenda yang saya tempati pintunya dibiarkan terbuka. Sleeping bag yang biasa dipakai kali ini hanya buat bantalan saja. Luar biasa nikmatnya gaes.... Semburat sinar di awan mulai tampak, pertanda datangnya pagi. Kamipun bergegas menuju tumpukan batu di Puncak Mendelem (Jimat). Sembari menunggu sunrise datang tak lupa kami menyalakan kompor dan menyiapkan minuman serta makanan hangat diatas. Sayang sekali sunrise kali ini tertutup kabut sehingga kami tidak bisa menikmati pemandangan yang seharusnya luar biasa ketika sunrise tiba. 






Setelah puas menikmati dan mengabadikan moment di puncak, kami segera turun kembali ke kediaman Kuncen Gunung Mendelem. 

Gunung Mendelem tidak kalah menariknya dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi. Keindahan akan tampak sekali dari puncak ketika suasana dan cuaca mendukung. Ini bukan soal prestise tapi bagaimana kenikmatan yang didapat dari sebuah pendakian. Ketinggiannya hanya 1.450 mdpl mas brow, tapi luar biasa sekali kesannya.





Waktunya packing dan berkemas untuk kembali turun. Satu persatu tenda kami lipat, tidak lupa peralatan kami cek untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. 



Hanya butuh waktu sekitar 45 menit untuk kembali turun menuju kediaman Juru Kunci Gunung Mendelem.



Setelah bersitirahat sejenak sembari ngobrol santai dengan Juru Kunci kami memohon pamit untuk pulang. Pulang….? Ups, ternyata masih ada destinasi wisata selanjutnya di Kecamatan Belik. Wah sayang juga kalau dilewatkan gaes. Curug Bengkawah I’m comiiinggggg (bersambung) 

Story by : Alas Perdu 
(17 Agustus 2015)

PITULASAN DI PETILASAN GUNUNG JIMAT 17 Agustus 2015 Hallo gaes, ga kerasa bertemu HUT RI lagi, kali ini yang ke-70 tahun 2015. Pitulasan kemana masbro? Kaum petualang biasanya memanfaatkan momen tujuh belasan ini dengan upacara bendera di puncak gunung. Mendaki gunung yang sudah familiar nama mungkin terlalu mainstream dan pastinya puncak bakalan dipenuhi dengan pendaki. Bukan bermaksud menghakimi, tapi semenjak film 5cm apalagi acara realiti show my trip my adventure animo masyarakat akan kegiatan di alam bebas ini luar biasa sekali sambutannya termasuk juga dengan kegiatan mendaki gunung. Menjelang tanggal 17 Agustus, ada rekan satu komunitas di Pendaki Laka-Laka (PL) yang mengajak trekking ke gunung yang belum familiar namanya di kalangan pendaki. Penasaran juga, tanpa pikir panjang, saya menerima ajakan rekan. Rencana awal kami hanya berempat, setelah sounding kesana-kemari akhirnya tim Pendaki Laka-laka kali ini genap berjumlah sepuluh orang. Tujuan pendakian kali ini adalah Gunung Mendelem alias Gunung Jimat.. Gunung mendelem terletak di Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang dengan ketinggian 1.450 Mdpl. Menurut Sesepuh atau kuncen yang kami jumpai disana, gunung Mendelem biasa juga disebut gunung Jimat karena gunung yang dikeramatkan ini konon memiliki benda-benda pusaka yang terdapat di bukitnya. Sebagaimana kita tahu bahwa budaya kita masih meyakini benda-benda pusaka atau jimat. Jimat ini menurut sebagian orang memiliki kekuatan, kewibawaan dan keagungan bagi siapa saja yang memilikinya. Masih percaya juga gaes ? Tim kami memulai perjalanan dari Kota Tegal sekitar pukul 6 sore menuju ke arah Slawi. Dari kota Slawi dilanjutkan ke Jatinegara melewati jalanan yang masih dalam perbaikan, sehingga debu terasa berterbangan kemana-mana dan perih dimata. Perjalanan kami lanjutkan menuju Randudongkal dan berakhir di pasar Belik. Di lokasi ini kami menuju salah satu saudara rekan yang ikut dalam pendakian kali ini . Tak lupa kami melengkapi logistik yang belum terbawa. Setelah melakukan pembicaraan, kita dipandu untuk sowan dulu ke Juru Kunci (Kuncen) Gunung Mendelem. Belanja logistik @ Al** Mart Sekitar pukul 20.00 wib kita sampai juga di kediaman Sang Juru Kunci. Di kediaman beliau kita diwanti-wanti untuk menjaga sikap selama dalam perjalanan, karena gunung ini terkenal dengan kramatnya. Berdasarkan informasi dari beliau, pernah ada kasus empat orang yang naik dan tersesat sehingga kami diwanti-wanti agar hal serupa tidak terjadi pada rombongan kami. Kediaman Kuncen Gn. Jimat Bersama kuncen Gn. Jimat Gunung Mendelem. bukan seperti layaknya gunung-gunung yang sudah biasa didaki. Disana belum ada system simaksi, basecamp, peta pedoman pendakian atau bahkan gapura selamat datang di pintu masuk gunung. Bagi orang yang baru datang pasti akan bingung karena masuk jalur pendakiannya pun tidak jelas dan tanpa penunjuk arah. Hanya dari informasi penduduk sekitarlah yang menjadi panduan dan pedoman selama pendakian. Tak lupa sebelum tim berangkat kita sempatkan sholat Isya berjamaah di pondok pesantren yang lokasinya tidak jauh dari kediaman Juru Kunci. Dan sekitar pukul 20.30 wib kita memulai pendakian. Awalnya kita melewati jalan aspal perkampungan, rumah-rumah penduduk dan kemudian memasuki jalur yang kanan kirinya dipenuhi pohon bambu. Medannya masih lumayan landai. Begitu bertemu dengan pertigaan batu besar yang kanan kirinya terdapat pohon bambu yang lumayan besar kita mulai dibuat bingung. Kondisi gelap, tanpa petunjuk arah dan sama sekali tidak ada pendaki lain yang kita jumpai. Hanya suara soundsystem acara malam tirakatan yang sayup-sayup terdengan dari atas. Di pertigaan ini jalur kiri begitu landai, sedangkan jalur yang ke kanan naik cukup terjal. Kami memutuskan mengambil arah kanan. Baru beberapa meter saja jalur sudah luar mulai menanjak. Medan tanah yang kami injak sangat riskan, karena kontur tanahnya yang kering dan rapuh. Sesekali kami terpeleset karena tanah yang kami pijak longsor. Tim pun melanjutkan perjalanan, kali ini medan menurun dengan curam. Kami mulai ragu apakah jalurnya benar-benar jalur pendakian yang biasa didaki. Setelah berdiskusi dan mengecek jalur di depan, kami memutuskan untuk meneruskan jalur tadi. Dan setelah berjalan cukup jauh otak kami seperti buntu karena disana sama sekali tidak ada jalur, kecuali ilalang dan semak belukar. Jalur makin terjal, sesekali kami harus berpegangan bebatuan. Tanpa disadari kami mulai tersesat makin jauh. Kabut makin tebal, tetesannya embun makin terasa ketika angin makin kencang. Suara nyanyian tembang langgam Jawa dari bawah makin membuat suasana makin merinding. Tim sepertinya berada di punggungan bukit yang berbeda. Setelah berkumpul dan cek anggota tim satu persatu, kita kembali berdiskusi. Saya baru tersadar kalau ada rekan yang pernah trekking ge gunung iini. Untung ada sinyal handphone dan tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi untuk kepastian jalurnya. Benar saja dari informasi yang kami dapatkan, kami benar-benar salah jalur dan lumayan jauh menyimpang dari jalur semestinya. Tim memutuskan kembali ke titik awal kita tersesat. Wow. Jauh juga, hampir satu jam kita tersesat. Dan alhamdulillah kita menemukan jalur yang semestinya dilalui pendaki. Benar-benar jalan setapak, kanan kiri diapit pepohonan dan semak belukar. Suasana sangat sepi tidak seperti layaknya pendakian di moment tujuhbelasan. Di tengah jalan kami bertemu area yang sudah disiapkan tempat perapian. Kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Kami ternyata tidak sendiri diatas sudah ada dua warga lokal dengan hanya berbekal lampu senter dan air tremos. “Buntu mas. Buntu ……. Bukan puncaknya”, salah satu dari mereka menyapa kami. Saya bersama satu rekan penasaran, “Kok tidak ada jalan ya?. Kami berdua menuju jalur yang kedua orang tadi lewati. Deg..deg..deg.. aroma bunga melati dan dupa menyengat gaes. Ternyata ada sebuah petilasan disana. Konon diyakini sebagai petilasan Damar Wulan dan Raden Patah. Sesajen, bunga serta dupa menyan meghiasi petilasan tersebut. Ternyata ini petilasanlah yang biasa orang-orang tuju untuk tirakat meminta sesuatu atau sekedar mencari jimat (mungkin sih, maaf kalau salah dikoreksi). Tanpa pikir panjang kami berdua langsung putar balik. Ngeri juga berada disana. Kami kembali menuju lokasi perapian yang ternyata ada jalan. Jalur kekanan nampak tumpukan bebatuan. Salah satu rekan mencoba cek lokasi. Wooowwww ternyata kita sudah berada di puncak Gunung Mendelem (Jimat). Dan hanya ini satu-satunya camp area di lokasi puncak. Lumayan sempit hanya muat untuk 3 tenda itupun salah satu tenda kami berukuran kecil cuman 1 person. Tenda kami pasang, logistik mulai dikeluarkan dan api unggun kami nyalakan. Benar-benar nikmat gaes. Luar biasa sepinya. Ini baru namanya naik gunung., menyatu dengan alam. Tanpa ada suara bising sama sekali, hanya suara binatang malam membuat suasana makin nyaman. Hawa di puncak tidak begitu dingin, tenda yang saya tempati pintunya dibiarkan terbuka. Sleeping bag yang biasa dipakai kali ini hanya buat bantalan saja. Luar biasa nikmatnya gaes.... Semburat sinar di awan mulai tampak, pertanda datangnya pagi. Kamipun bergegas menuju tumpukan batu di Puncak Mendelem (Jimat). Sembari menunggu sunrise datang tak lupa kami menyalakan kompor dan menyiapkan minuman serta makanan hangat diatas. Sayang sekali sunrise kali ini tertutup kabut sehingga kami tidak bisa menikmati pemandangan yang seharusnya luar biasa ketika sunrise tiba. Setelah puas menikmati dan mengabadikan moment di puncak, kami segera turun kembali ke kediaman Kuncen Gunung Mendelem. Gunung Mendelem tidak kalah menariknya dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi. Keindahan akan tampak sekali dari puncak ketika suasana dan cuaca mendukung. Ini bukan soal prestise tapi bagaimana kenikmatan yang didapat dari sebuah pendakian. Ketinggiannya hanya 1.450 mdpl mas brow, tapi luar biasa sekali kesannya. Waktunya packing dan berkemas untuk kembali turun. Satu persatu tenda kami lipat, tidak lupa peralatan kami cek untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Hanya butuh waktu sekitar 45 menit untuk kembali turun menuju kediaman Juru Kunci Gunung Mendelem. Setelah bersitirahat sejenak sembari ngobrol santai dengan Juru Kunci kami memohon pamit untuk pulang. Pulang….? Ups, ternyata masih ada destinasi wisata selanjutnya di Kecamatan Belik. Wah sayang juga kalau dilewatkan gaes. Curug Bengkawah I’m comiiinggggg (bersambung) Story by : Alas Perdu (03 September 2015)

Copy the BEST Traders and Make Money (One Click) : http://ow.ly/KNICZ
PITULASAN DI PETILASAN GUNUNG JIMAT 17 Agustus 2015 Hallo gaes, ga kerasa bertemu HUT RI lagi, kali ini yang ke-70 tahun 2015. Pitulasan kemana masbro? Kaum petualang biasanya memanfaatkan momen tujuh belasan ini dengan upacara bendera di puncak gunung. Mendaki gunung yang sudah familiar nama mungkin terlalu mainstream dan pastinya puncak bakalan dipenuhi dengan pendaki. Bukan bermaksud menghakimi, tapi semenjak film 5cm apalagi acara realiti show my trip my adventure animo masyarakat akan kegiatan di alam bebas ini luar biasa sekali sambutannya termasuk juga dengan kegiatan mendaki gunung. Menjelang tanggal 17 Agustus, ada rekan satu komunitas di Pendaki Laka-Laka (PL) yang mengajak trekking ke gunung yang belum familiar namanya di kalangan pendaki. Penasaran juga, tanpa pikir panjang, saya menerima ajakan rekan. Rencana awal kami hanya berempat, setelah sounding kesana-kemari akhirnya tim Pendaki Laka-laka kali ini genap berjumlah sepuluh orang. Tujuan pendakian kali ini adalah Gunung Mendelem alias Gunung Jimat.. Gunung mendelem terletak di Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang dengan ketinggian 1.450 Mdpl. Menurut Sesepuh atau kuncen yang kami jumpai disana, gunung Mendelem biasa juga disebut gunung Jimat karena gunung yang dikeramatkan ini konon memiliki benda-benda pusaka yang terdapat di bukitnya. Sebagaimana kita tahu bahwa budaya kita masih meyakini benda-benda pusaka atau jimat. Jimat ini menurut sebagian orang memiliki kekuatan, kewibawaan dan keagungan bagi siapa saja yang memilikinya. Masih percaya juga gaes ? Tim kami memulai perjalanan dari Kota Tegal sekitar pukul 6 sore menuju ke arah Slawi. Dari kota Slawi dilanjutkan ke Jatinegara melewati jalanan yang masih dalam perbaikan, sehingga debu terasa berterbangan kemana-mana dan perih dimata. Perjalanan kami lanjutkan menuju Randudongkal dan berakhir di pasar Belik. Di lokasi ini kami menuju salah satu saudara rekan yang ikut dalam pendakian kali ini . Tak lupa kami melengkapi logistik yang belum terbawa. Setelah melakukan pembicaraan, kita dipandu untuk sowan dulu ke Juru Kunci (Kuncen) Gunung Mendelem. Belanja logistik @ Al** Mart Sekitar pukul 20.00 wib kita sampai juga di kediaman Sang Juru Kunci. Di kediaman beliau kita diwanti-wanti untuk menjaga sikap selama dalam perjalanan, karena gunung ini terkenal dengan kramatnya. Berdasarkan informasi dari beliau, pernah ada kasus empat orang yang naik dan tersesat sehingga kami diwanti-wanti agar hal serupa tidak terjadi pada rombongan kami. Kediaman Kuncen Gn. Jimat Bersama kuncen Gn. Jimat Gunung Mendelem. bukan seperti layaknya gunung-gunung yang sudah biasa didaki. Disana belum ada system simaksi, basecamp, peta pedoman pendakian atau bahkan gapura selamat datang di pintu masuk gunung. Bagi orang yang baru datang pasti akan bingung karena masuk jalur pendakiannya pun tidak jelas dan tanpa penunjuk arah. Hanya dari informasi penduduk sekitarlah yang menjadi panduan dan pedoman selama pendakian. Tak lupa sebelum tim berangkat kita sempatkan sholat Isya berjamaah di pondok pesantren yang lokasinya tidak jauh dari kediaman Juru Kunci. Dan sekitar pukul 20.30 wib kita memulai pendakian. Awalnya kita melewati jalan aspal perkampungan, rumah-rumah penduduk dan kemudian memasuki jalur yang kanan kirinya dipenuhi pohon bambu. Medannya masih lumayan landai. Begitu bertemu dengan pertigaan batu besar yang kanan kirinya terdapat pohon bambu yang lumayan besar kita mulai dibuat bingung. Kondisi gelap, tanpa petunjuk arah dan sama sekali tidak ada pendaki lain yang kita jumpai. Hanya suara soundsystem acara malam tirakatan yang sayup-sayup terdengan dari atas. Di pertigaan ini jalur kiri begitu landai, sedangkan jalur yang ke kanan naik cukup terjal. Kami memutuskan mengambil arah kanan. Baru beberapa meter saja jalur sudah luar mulai menanjak. Medan tanah yang kami injak sangat riskan, karena kontur tanahnya yang kering dan rapuh. Sesekali kami terpeleset karena tanah yang kami pijak longsor. Tim pun melanjutkan perjalanan, kali ini medan menurun dengan curam. Kami mulai ragu apakah jalurnya benar-benar jalur pendakian yang biasa didaki. Setelah berdiskusi dan mengecek jalur di depan, kami memutuskan untuk meneruskan jalur tadi. Dan setelah berjalan cukup jauh otak kami seperti buntu karena disana sama sekali tidak ada jalur, kecuali ilalang dan semak belukar. Jalur makin terjal, sesekali kami harus berpegangan bebatuan. Tanpa disadari kami mulai tersesat makin jauh. Kabut makin tebal, tetesannya embun makin terasa ketika angin makin kencang. Suara nyanyian tembang langgam Jawa dari bawah makin membuat suasana makin merinding. Tim sepertinya berada di punggungan bukit yang berbeda. Setelah berkumpul dan cek anggota tim satu persatu, kita kembali berdiskusi. Saya baru tersadar kalau ada rekan yang pernah trekking ge gunung iini. Untung ada sinyal handphone dan tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi untuk kepastian jalurnya. Benar saja dari informasi yang kami dapatkan, kami benar-benar salah jalur dan lumayan jauh menyimpang dari jalur semestinya. Tim memutuskan kembali ke titik awal kita tersesat. Wow. Jauh juga, hampir satu jam kita tersesat. Dan alhamdulillah kita menemukan jalur yang semestinya dilalui pendaki. Benar-benar jalan setapak, kanan kiri diapit pepohonan dan semak belukar. Suasana sangat sepi tidak seperti layaknya pendakian di moment tujuhbelasan. Di tengah jalan kami bertemu area yang sudah disiapkan tempat perapian. Kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Kami ternyata tidak sendiri diatas sudah ada dua warga lokal dengan hanya berbekal lampu senter dan air tremos. “Buntu mas. Buntu ……. Bukan puncaknya”, salah satu dari mereka menyapa kami. Saya bersama satu rekan penasaran, “Kok tidak ada jalan ya?. Kami berdua menuju jalur yang kedua orang tadi lewati. Deg..deg..deg.. aroma bunga melati dan dupa menyengat gaes. Ternyata ada sebuah petilasan disana. Konon diyakini sebagai petilasan Damar Wulan dan Raden Patah. Sesajen, bunga serta dupa menyan meghiasi petilasan tersebut. Ternyata ini petilasanlah yang biasa orang-orang tuju untuk tirakat meminta sesuatu atau sekedar mencari jimat (mungkin sih, maaf kalau salah dikoreksi). Tanpa pikir panjang kami berdua langsung putar balik. Ngeri juga berada disana. Kami kembali menuju lokasi perapian yang ternyata ada jalan. Jalur kekanan nampak tumpukan bebatuan. Salah satu rekan mencoba cek lokasi. Wooowwww ternyata kita sudah berada di puncak Gunung Mendelem (Jimat). Dan hanya ini satu-satunya camp area di lokasi puncak. Lumayan sempit hanya muat untuk 3 tenda itupun salah satu tenda kami berukuran kecil cuman 1 person. Tenda kami pasang, logistik mulai dikeluarkan dan api unggun kami nyalakan. Benar-benar nikmat gaes. Luar biasa sepinya. Ini baru namanya naik gunung., menyatu dengan alam. Tanpa ada suara bising sama sekali, hanya suara binatang malam membuat suasana makin nyaman. Hawa di puncak tidak begitu dingin, tenda yang saya tempati pintunya dibiarkan terbuka. Sleeping bag yang biasa dipakai kali ini hanya buat bantalan saja. Luar biasa nikmatnya gaes.... Semburat sinar di awan mulai tampak, pertanda datangnya pagi. Kamipun bergegas menuju tumpukan batu di Puncak Mendelem (Jimat). Sembari menunggu sunrise datang tak lupa kami menyalakan kompor dan menyiapkan minuman serta makanan hangat diatas. Sayang sekali sunrise kali ini tertutup kabut sehingga kami tidak bisa menikmati pemandangan yang seharusnya luar biasa ketika sunrise tiba. Setelah puas menikmati dan mengabadikan moment di puncak, kami segera turun kembali ke kediaman Kuncen Gunung Mendelem. Gunung Mendelem tidak kalah menariknya dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi. Keindahan akan tampak sekali dari puncak ketika suasana dan cuaca mendukung. Ini bukan soal prestise tapi bagaimana kenikmatan yang didapat dari sebuah pendakian. Ketinggiannya hanya 1.450 mdpl mas brow, tapi luar biasa sekali kesannya. Waktunya packing dan berkemas untuk kembali turun. Satu persatu tenda kami lipat, tidak lupa peralatan kami cek untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Hanya butuh waktu sekitar 45 menit untuk kembali turun menuju kediaman Juru Kunci Gunung Mendelem. Setelah bersitirahat sejenak sembari ngobrol santai dengan Juru Kunci kami memohon pamit untuk pulang. Pulang….? Ups, ternyata masih ada destinasi wisata selanjutnya di Kecamatan Belik. Wah sayang juga kalau dilewatkan gaes. Curug Bengkawah I’m comiiinggggg (bersambung) Story by : Alas Perdu (03 September 2015)

Copy the BEST Traders and Make Money (One Click) : http://ow.ly/KNICZ
PITULASAN DI PETILASAN GUNUNG JIMAT 17 Agustus 2015 Hallo gaes, ga kerasa bertemu HUT RI lagi, kali ini yang ke-70 tahun 2015. Pitulasan kemana masbro? Kaum petualang biasanya memanfaatkan momen tujuh belasan ini dengan upacara bendera di puncak gunung. Mendaki gunung yang sudah familiar nama mungkin terlalu mainstream dan pastinya puncak bakalan dipenuhi dengan pendaki. Bukan bermaksud menghakimi, tapi semenjak film 5cm apalagi acara realiti show my trip my adventure animo masyarakat akan kegiatan di alam bebas ini luar biasa sekali sambutannya termasuk juga dengan kegiatan mendaki gunung. Menjelang tanggal 17 Agustus, ada rekan satu komunitas di Pendaki Laka-Laka (PL) yang mengajak trekking ke gunung yang belum familiar namanya di kalangan pendaki. Penasaran juga, tanpa pikir panjang, saya menerima ajakan rekan. Rencana awal kami hanya berempat, setelah sounding kesana-kemari akhirnya tim Pendaki Laka-laka kali ini genap berjumlah sepuluh orang. Tujuan pendakian kali ini adalah Gunung Mendelem alias Gunung Jimat.. Gunung mendelem terletak di Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang dengan ketinggian 1.450 Mdpl. Menurut Sesepuh atau kuncen yang kami jumpai disana, gunung Mendelem biasa juga disebut gunung Jimat karena gunung yang dikeramatkan ini konon memiliki benda-benda pusaka yang terdapat di bukitnya. Sebagaimana kita tahu bahwa budaya kita masih meyakini benda-benda pusaka atau jimat. Jimat ini menurut sebagian orang memiliki kekuatan, kewibawaan dan keagungan bagi siapa saja yang memilikinya. Masih percaya juga gaes ? Tim kami memulai perjalanan dari Kota Tegal sekitar pukul 6 sore menuju ke arah Slawi. Dari kota Slawi dilanjutkan ke Jatinegara melewati jalanan yang masih dalam perbaikan, sehingga debu terasa berterbangan kemana-mana dan perih dimata. Perjalanan kami lanjutkan menuju Randudongkal dan berakhir di pasar Belik. Di lokasi ini kami menuju salah satu saudara rekan yang ikut dalam pendakian kali ini . Tak lupa kami melengkapi logistik yang belum terbawa. Setelah melakukan pembicaraan, kita dipandu untuk sowan dulu ke Juru Kunci (Kuncen) Gunung Mendelem. Belanja logistik @ Al** Mart Sekitar pukul 20.00 wib kita sampai juga di kediaman Sang Juru Kunci. Di kediaman beliau kita diwanti-wanti untuk menjaga sikap selama dalam perjalanan, karena gunung ini terkenal dengan kramatnya. Berdasarkan informasi dari beliau, pernah ada kasus empat orang yang naik dan tersesat sehingga kami diwanti-wanti agar hal serupa tidak terjadi pada rombongan kami. Kediaman Kuncen Gn. Jimat Bersama kuncen Gn. Jimat Gunung Mendelem. bukan seperti layaknya gunung-gunung yang sudah biasa didaki. Disana belum ada system simaksi, basecamp, peta pedoman pendakian atau bahkan gapura selamat datang di pintu masuk gunung. Bagi orang yang baru datang pasti akan bingung karena masuk jalur pendakiannya pun tidak jelas dan tanpa penunjuk arah. Hanya dari informasi penduduk sekitarlah yang menjadi panduan dan pedoman selama pendakian. Tak lupa sebelum tim berangkat kita sempatkan sholat Isya berjamaah di pondok pesantren yang lokasinya tidak jauh dari kediaman Juru Kunci. Dan sekitar pukul 20.30 wib kita memulai pendakian. Awalnya kita melewati jalan aspal perkampungan, rumah-rumah penduduk dan kemudian memasuki jalur yang kanan kirinya dipenuhi pohon bambu. Medannya masih lumayan landai. Begitu bertemu dengan pertigaan batu besar yang kanan kirinya terdapat pohon bambu yang lumayan besar kita mulai dibuat bingung. Kondisi gelap, tanpa petunjuk arah dan sama sekali tidak ada pendaki lain yang kita jumpai. Hanya suara soundsystem acara malam tirakatan yang sayup-sayup terdengan dari atas. Di pertigaan ini jalur kiri begitu landai, sedangkan jalur yang ke kanan naik cukup terjal. Kami memutuskan mengambil arah kanan. Baru beberapa meter saja jalur sudah luar mulai menanjak. Medan tanah yang kami injak sangat riskan, karena kontur tanahnya yang kering dan rapuh. Sesekali kami terpeleset karena tanah yang kami pijak longsor. Tim pun melanjutkan perjalanan, kali ini medan menurun dengan curam. Kami mulai ragu apakah jalurnya benar-benar jalur pendakian yang biasa didaki. Setelah berdiskusi dan mengecek jalur di depan, kami memutuskan untuk meneruskan jalur tadi. Dan setelah berjalan cukup jauh otak kami seperti buntu karena disana sama sekali tidak ada jalur, kecuali ilalang dan semak belukar. Jalur makin terjal, sesekali kami harus berpegangan bebatuan. Tanpa disadari kami mulai tersesat makin jauh. Kabut makin tebal, tetesannya embun makin terasa ketika angin makin kencang. Suara nyanyian tembang langgam Jawa dari bawah makin membuat suasana makin merinding. Tim sepertinya berada di punggungan bukit yang berbeda. Setelah berkumpul dan cek anggota tim satu persatu, kita kembali berdiskusi. Saya baru tersadar kalau ada rekan yang pernah trekking ge gunung iini. Untung ada sinyal handphone dan tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi untuk kepastian jalurnya. Benar saja dari informasi yang kami dapatkan, kami benar-benar salah jalur dan lumayan jauh menyimpang dari jalur semestinya. Tim memutuskan kembali ke titik awal kita tersesat. Wow. Jauh juga, hampir satu jam kita tersesat. Dan alhamdulillah kita menemukan jalur yang semestinya dilalui pendaki. Benar-benar jalan setapak, kanan kiri diapit pepohonan dan semak belukar. Suasana sangat sepi tidak seperti layaknya pendakian di moment tujuhbelasan. Di tengah jalan kami bertemu area yang sudah disiapkan tempat perapian. Kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Kami ternyata tidak sendiri diatas sudah ada dua warga lokal dengan hanya berbekal lampu senter dan air tremos. “Buntu mas. Buntu ……. Bukan puncaknya”, salah satu dari mereka menyapa kami. Saya bersama satu rekan penasaran, “Kok tidak ada jalan ya?. Kami berdua menuju jalur yang kedua orang tadi lewati. Deg..deg..deg.. aroma bunga melati dan dupa menyengat gaes. Ternyata ada sebuah petilasan disana. Konon diyakini sebagai petilasan Damar Wulan dan Raden Patah. Sesajen, bunga serta dupa menyan meghiasi petilasan tersebut. Ternyata ini petilasanlah yang biasa orang-orang tuju untuk tirakat meminta sesuatu atau sekedar mencari jimat (mungkin sih, maaf kalau salah dikoreksi). Tanpa pikir panjang kami berdua langsung putar balik. Ngeri juga berada disana. Kami kembali menuju lokasi perapian yang ternyata ada jalan. Jalur kekanan nampak tumpukan bebatuan. Salah satu rekan mencoba cek lokasi. Wooowwww ternyata kita sudah berada di puncak Gunung Mendelem (Jimat). Dan hanya ini satu-satunya camp area di lokasi puncak. Lumayan sempit hanya muat untuk 3 tenda itupun salah satu tenda kami berukuran kecil cuman 1 person. Tenda kami pasang, logistik mulai dikeluarkan dan api unggun kami nyalakan. Benar-benar nikmat gaes. Luar biasa sepinya. Ini baru namanya naik gunung., menyatu dengan alam. Tanpa ada suara bising sama sekali, hanya suara binatang malam membuat suasana makin nyaman. Hawa di puncak tidak begitu dingin, tenda yang saya tempati pintunya dibiarkan terbuka. Sleeping bag yang biasa dipakai kali ini hanya buat bantalan saja. Luar biasa nikmatnya gaes.... Semburat sinar di awan mulai tampak, pertanda datangnya pagi. Kamipun bergegas menuju tumpukan batu di Puncak Mendelem (Jimat). Sembari menunggu sunrise datang tak lupa kami menyalakan kompor dan menyiapkan minuman serta makanan hangat diatas. Sayang sekali sunrise kali ini tertutup kabut sehingga kami tidak bisa menikmati pemandangan yang seharusnya luar biasa ketika sunrise tiba. Setelah puas menikmati dan mengabadikan moment di puncak, kami segera turun kembali ke kediaman Kuncen Gunung Mendelem. Gunung Mendelem tidak kalah menariknya dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi. Keindahan akan tampak sekali dari puncak ketika suasana dan cuaca mendukung. Ini bukan soal prestise tapi bagaimana kenikmatan yang didapat dari sebuah pendakian. Ketinggiannya hanya 1.450 mdpl mas brow, tapi luar biasa sekali kesannya. Waktunya packing dan berkemas untuk kembali turun. Satu persatu tenda kami lipat, tidak lupa peralatan kami cek untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Hanya butuh waktu sekitar 45 menit untuk kembali turun menuju kediaman Juru Kunci Gunung Mendelem. Setelah bersitirahat sejenak sembari ngobrol santai dengan Juru Kunci kami memohon pamit untuk pulang. Pulang….? Ups, ternyata masih ada destinasi wisata selanjutnya di Kecamatan Belik. Wah sayang juga kalau dilewatkan gaes. Curug Bengkawah I’m comiiinggggg (bersambung) Story by : Alas Perdu (03 September 2015)

Copy the BEST Traders and Make Money (One Click) : http://ow.ly/KNICZ

Sunday, March 22, 2015

Lampu Tenda Sederhana

Kadang kita kesulitan bawa lampu badai buat di dalam tenda, susah nyari minyak tanah atau takut peralatan kita bau minyak tanah. Kalaupun mau beli lampu tenda modern susah nyarinya di Toko mana. Dan jika ada bentuknya besar dan harganya lumayan. Ada yg pernah buat beginian ga ya ? Hampir semuanya dari barang yg sdh tdk kita pakai. Barang sangat kecil, ringan murah.Sudah teruji dan terjamin kemampuannya di beberapa gunung.


Alat dan Bahan :
1) Batrai HP bekas. Disini ane pasang 2 buah, digabung secara paralel biar nyala lebih lama
2) Lampu Led Super White, bekas dari lampu emergency rusak pun bisa, asalkan yg super white. Ane pasang 2 buah, bisa lebih sesuai kebutuhan, semakin banyak maka semakin terang. LED dirangkai paralel.
3) Dioda 2bh, bekas daleman lampu bohlam yg warna putih susu bisa dipakai
4) Saklar bekas
5) Kotak bekas box kartu nama.
6) CD/ DVD Bekas.
7) Charger HP bekas, dites dulu masih ada dayanya tidak pakai multi tester atau Led Super White tadi. Ujung kabel dimodifikasi pakai penjepit kabel warna hitam dan merah
8) Pasang led merah dihambat restan 220 atau 330 buat indikator ketika nge-charge



Gambar skema prinsip dasar




Hasil akhir lampu tenda



JANGAN LUPA PAKAI LED YG SUPER WHITE, KALAU YG BIASA PASTI LANGSUNG PUTUS ! DIJAMIN NYALA TERANG DAN JUGA BISA DIPAKAI KALAU LISTRIK MATI. TIDAK PERLU BELI MINYAK TANAH ATAU BATRE ALK*LIN*, CUKUP CHARGE KALAU NYALA MULAI REDUP !!


SEMOGA BERMANFAAT 


Tutorial & Handmade By : Alas Perdu

Thursday, March 12, 2015

Pengantar Mountaineering



Kegiatan di gunung biasanya diistilahkan dengan mendaki gunung (hill walking/ mountaineering ) pelakunya disebut pendaki gunung/ mountainer. Masyarakat sering mengidentifikasikan pendaki gunung dengan pencinta alam padahal sebenarnya pencinta alam saja yang bertujuan untuk mengenal alam dan melestarikannya sedangkan kelompok lain hanya ingin berekreasi atau bahkan merusak lingkungan pegunungan dengan berbagai kegiatannya.

Kegiatan utama di gunung adalah berjalan, berkemah, menempuh rimba dan kadang memanjat tebing baik untuk tujuan ilmiah maupun rekreatif. Untuk itu pelakunya perlu menguasai teknik hidup di alam bebas yang disebut dengan mountaneering. Medan yang dihadapi umumnya adalah hutan belantara tropis, punggungan pegunungan muda dan tidak jarang pula menyusuri mata air serta sungai. Pada gunung tertentu terdapat salju dan es. Teknik pendakian guunung salju disebut Ice climbing, tata caranya sangat berbeda dengan pendakian pada gunung biasa.

Puncak tertinggi secara fisik merupakan tujuan utama dari kegiatan mendaki gunung. Namun, secara filisofis tujuannya adalah untuk mengasah fisik dan mental sehingga muncul sikap-sikap positif seperti percaya diri, pencinta alam, cinta sesama dan menghormati peri kehidupan disekitarnya. Kebanggaan terbesar bagi seorang pendaki gunung adalah karena kemampuannya mengatasi kelemahan yang ada pada dirinya.


PERSIAPAN FISIK DAN TEKNIK


Kesiapan fisik adalah modal utama dalam melakukan kegiatan mountaneering. Latihan fisik yang bertujuan meningkatkan daya tahan dan kebugaran adalah menu utama. Ini dapat diperoleh deengan melakukan senam, lari dan latihan beban secara rutin.

Senam aerobik ditambah bersepeda bertujuan untuk menjaga kebugaran dan daya tahan. Lari terutama di siang jari dapat meningkatkan VO2MAX (kemampuan paru-paru menyerap oksigen) mengingat oksigen di daerah ketinggian kadarnya rendah.

Latihan beban berguna untuk membentuk kekuatan otot dalam menghadapi medan yang berat. Penguasaan hidup di alam bebas meliputi survival, bivoac, tali temali, teknik dasar, memasak, kesehatan lapangan, P3K, ilmu medan medan dan membaca peta kompas mutlak harus dikuasai. Ditunjang dengan peralatan yang lengkap dan baik akan menjamin keselamatan dan kenyamanan pendakian. Tidak dapat ditinggalkan adalah dokumen perjalanan seperti surat ijin instansi terkait.


Dalam perjalanan ada baiknya untuk mendekatkan diri dengan penduduk sekitar, memberitahukan maksud kegiatan kita. Hal ini penting karena sekiranya mendapat kesulitan maka penduduklah yang paling potensial untuk secepatnya memberi bantuan.



TEKNIK PACKING


Secara ideal umunya beban yang dapat dibawa adalah 30%-45% dari berat tubuh. Pisahkan barang-barang yang dibawa dalam kelompok-kelompok yang sesuai dengan kegunaan. Perhitungkan dengan kelompok kelompok yang sesuai dengan kegunaan. Perhitungkan dengan cermat jumlah barang, tingkat kebutuhan dan urutan pemakaiannya serta tentukan tempat kebutuhan dan urutan pemakaiannya serta tentukan tempat yang paling praktis di ransel untuk jenis barang tersebut. Misalnya alat-alat MCK dan alat-alat tulis dapat disimpan dikantong-kantong luar ransel, pakaian di bagian bawah, makanan di tengah dan seterusnya.

Aturan umum dalam packing adalah letakkan barang yang ringan di bawah dan yang berat di atas serta bagilah beban secara merata di sisi kiri dan kanan ransel serta barang yang paling berat di tengah. Aturlah penempatan seefisien mungkin dan jangan biarkan ada barang tersisa bergeletakkan di luar ransel karena akan mengganggu perjalanan dan berbahaya bila terangkut dahan.



TEKNIK BERJALAN



Mendaki gunung pada dasarnya adalah olahraga berjalan, di mana medan yang dilalui sangat berbeda dengan yang kita lalui sehariihari. Ditambah beban yang ada dipunggung maka kita dituntut untuk menguasai teknik menjaga keseimbangan dan berjalan di pegunungan dengan benar.


Di medan berkerikil atau berbatu bulat atau tajam seperti sungai harus dilewati dengan melompat dengan cepat dari satu batu ke batu yang lain sebelum batu tersebut sempat bergulir. Namun bila kondisi badan sudah lemah sebaiknya diperiksa dulu posisi batuan tersebut kemudian ,melewatinya perlahan-lahan. Tanah berumput basah karena embun dan hujan serta terdapat lumut mengakibatkan tergelincir. Medan berlumpur dan becek menjadikan perjalanan menjemukan, lambat serta menguras banyak tenaga. Hal ini hanya dapat dihindari bila kita memakai sepatu dari jenis yang tepat untuk keperluan hiking.
Berjalan di pegunungan bukit yang curam memerlukan keseimbangan yang prima. Gerakan mendadak seperti mengayun tangan dan melompa dapat berakibat fatal. Hati-hati dengan terpaan angin, berjalanlah tenang dan tidak kaku. Jangan memotong lintasan karena biasanya jalan setapak yang sudah ada mengikuti kontur alam sehingga tidak curam walau berkelok-kelok. Hapalkan lintasan tersebut agar mudah bila kehilangan arahatau pada saat kembali nantinya. Teknik lain berjalan di daerah curam adalah dengan lintasan zig-zag untuk menghemat nafas.

Jangan memakai tumbuhan kecil yang ada di tebing sebagai tumpuan karena biasanya banyak yang lapuk dan tidak cukup kuat untuk menahan bebn, cukup dipakai sebagai keseimbangan saja.

Semak lebat sering menghalangi dan menghilangkan lintasan, bukalah semak dengan tebasan parang. Lakukanlah tebasan sesedikit mungkin untuk menghemat tenaga. Perhatikan pada waktu yang cukup lama untuk ditumbuhi rumput sehingga masihmudah ditemukan dengan sedikit menyibak semak. Lintasan yang kurang jelas biasanya jarang dilewati kecuali oleh penebang kayu.

Sungai memang tampak sebagai jalan yang mudah dilalui untuk cepat sampai ke bawah, tetapi mengikuti aliran sungai adalah tindakan yang berbahaya. Sungai di gunung seringkali melewai tebing dan air terjun yang curam sehingga sulit dilalui tanpa peralatan memanjat tebing. Banyak kecelakaan terjadi karena mengikuti aliran sungai. Bila terpaksa untuk mengikuti aliran sungai, misalnya pada saat tersesat, ikutilah dari tempat yang tinggi prinsipnya ikutilah lintasan yang berbeda di pegunungan asalkan aliran sungai tersebut masih dapat terlihat dan bukan di cekuk-cekuk di mana sungai tersebut mengalir.

Pada saat turun kondisi badan biasanya sudah lelah ditambah posisi badan yang seluruhnya mengarah ke bawah sehingga otot kaki mendapt beban ekstra, kemungkinan terkilir dan tergelincir cukup besar. Kencangkan ujung kaki agar ujung kaki tidak tergencet dan pergunakan tumit sepatu sebagai rem dantumpuan beban. Jangan berjalan doyong ke muka, usahakan berat tubuh tetap ditengah. Cara lain adalah berjalan miring dengan tubuh doyong ke belakang segera dapat mengantisipasi keadaan bila terpeleset.
Hati-hati bila berada di daerah kawah, daerah yang gersang tanpa tumbuhan dan bila ada gejala pening atau mual biasanya merupakan pertanda adanya gas beracun. Hindari tempat tersebut dan segera carilah tempat dengan sirkulasi udara, sementara dapat digunakan kain yang dibasahi air dan ditutupkan ke hidung.

Kadangkala gas beracun mengalir tidak terlalu tinggi dari permukaan tanah, kira-kira setinggi lutut. Gas ini biasa menyerang pada saat pendaki sedang duduk beristirahat atau tidur. Karena sifatnya yang tidak berbau dan berawan maka gas ini perlu diwaspadai terutama bila timbul gejala keracuna sesaat setelah istirahat. Segera cari tempat istirahat atau shelter lain di tempat yang lebih tinggi, terbuka dan sirkulasi udara yang baik.
Jangan terlalu berkonsentrasi pada gerakan kaki, berjalanlah santai dengan pandangan ke depan sambil sesekali memperhatikan keindahan pemandangan sekitar. Kecuali pada tanjakan yang curam lebih baik arahkan pandangan ke tanah karena biasanya pandangan ke atas akan melemahkan semangat tanpa disadari akibat timbulnya kesan seolah-olah tidak segera sampai.

Berjalan harus mengikuti suatu irama yang tetap dengan langkah-langkah kecil. Langkah yang selalu lebar akan mempengaruhi keseimbangan karena berat badan sering ditunjang oleh satu kaki saja. Pendaki gunung berjalan lebih lambat dari ritme berjalan yang normal untuk menghemat nafas.

Kesulitan berbicara dengan teman selagi berjalan adalah pertanda berjalan terlalu cepat. Lebih baik berjalan lambat dengan istirahat yang sedikit daripada berjalan cepat dengan istirahat yang banyak pula. Saat beristirahat duduklah berselonjor dengan kaki sedikit diangkat di atas badan agar darah yang mengumpul di kaki dapat mengalir mormal kembali.

Hindari angin secara langsung karena udara dingin cepat mengerutkan otot yang istirahat. Pori-pori yang terbuka akibat berkeringat akan mengakibatkan exposure (kehilangan panas tubuh) bila terkena angin (hawa dingin). Untuk menghindarinya usahakan untuk memakai jaket pada saat beristirahat walaupun tubuh agak terasa panas.

Jangan terlalu lama istirahat karena otot yang mulai mengendur akan memerlukan pemanasan kembali. Ukuran normal istirahat adalah sepuluh menit setiap berjalan selama satu jam. Bila semkain lama anda membutuhkan waktu istirahat lebih panjang dengan interval di bawah satu jam maka berarti anda telah terlalu lemah.

Selama istirahat perlu teknik pengaturan nafas untuk menghilangkan kepenatan dengan gerakan-gerakan ringan, misalnya menekuk badan ke muka ke belakang dan samping kiri kanan, mengambil nafas sekuat kuatnya, ditahan sejenak kemudian dihembuskan melalui mulut dengan berteriak. Teknik relaksasi seperti ini berguna untuk melepaskan kepenatan dan stres selama perjalanan.


TEKNIK MENDIRIKAN  SHELTER /TENDA/ BIVAK


Segera dirikan tenda (shelter) untuk istirahat panjang dengan lokasi datar, tidak berangin, dekat sumber air dan berada di tempat yang tinggi agar terhindar dari kemungkinan pengendapan gas racun. Segera psikologis tempat yang tinggi memungkinkan kita terlihat pemandangan yang menarik di sekitar untuk mengurangi kelelahan mental.

Selama istirahat minumlah air hangat yang cukup seimbang dengan keringat yang dikeluarkan. Tambahkan sedikit garam untuk mengganti mineral yang keluar bersama keringat dan untuk otot. Makanlah makanan kecil seperti biskuit dengan kadar hidrat arang yang tinggi untuk menambah tenaga.


Selama dalam perjalanan buanglah bungkus semen, puntung rokok dan bungkusnya serta sampah lainnya ke dalam tas plastik agar tidak mencemari lingkungan pegunungan. Sedapat mungkin lakukanlah SAR (Search and Rescue) sampah yang ada di sepanjang jalan dengan demikian kita telah membantu kebersihan dan kelestarian lingkungan pegunungan tersebut.


Tips mendirikan sherlter/ tenda/ bivak :

1. Di tempat yang datar
2. Di tempat yang kering
3. Di sekitar banyak terdapat pohon
4. Melawan arah angin
5. Tidak searah dengan aliran air


Nah, itu tadi sekilas teknik pendakian gunung. Ingat, mendaki gunung bukanlah hal yang mudah, butuh banyak persiapan terutama persiapan fisik. Salah seorang teman saya pernah terkena Hipotermia (suatu kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin) saat kita mencapai puncak Panderman, Malang. Panderman bukanlah gunung yang tinggi, tetapi udara dingin di puncaknya sanggup melemahkan tubuh manusia. Ga kebayang lagi dengan hawanya gunung yang lebih tinggi seperti Semeru, kan? Tapi selama segala persiapan terpenuhi, hal-hal yang buruk bisa dihindari. Selamat mendaki!

Survival







Survival berasal dari kata survive yang berarti bertahan hidup. Survival adalah mempertahankan hidup di alam bebas dari hambatan alam sebelum mendapat pertolongan. Sedangkan menurut pengertian lain, survival adalah suatu kondisi dimana seseorang / kelompok orang dari kehidupan normal ( masih sebagaimana direncanakan ) baik tiba - tiba atau disadari masuk ke dalam situasi tidak normal ( di luar garis rencananya ).

Orang yang melakukan survival disebut survivor. Survival yang biasa dilakukan yaitu di hutan / alam bebas sehingga disebut jungle survival. Survival terjadi karena adanya kondisi darurat yang disebabkan alam, kecelakaan, gangguan satwa, atau kondisi lainnya.

Setiap huruf dari kata survival merupakan singkatan dari langkah - langkah yang harus kita ingat dan lakukan yaitu:





S : Size up the situation
U : Undue haste makes waste
R : Remember where you are
V : Vanguish fear and panic
I : Improve
V : Value living
A : Act like native
L : Learn basic skill

Secara umum aspek - aspek dalam kondisi survival dibagi tiga yang saling empengaruhi dan berkaitan yaitu aspek psikologis ( panik, takut, cemas, sepi, bingung, tertekan, bosan ), aspek fisiologis ( sakit, lapar, haus, luka, lelah ), dan aspek lingkungan ( panas, dingin, kering, hujan ).

1. Komponen pokok survival terdiri atas:

- sikap mental berupa hati yang kuat bertahan hidup, mengutamakan akal sehat, berpikir jernih dan optimis
- kondisi fisik yang fit dan kuat
- tingkat pengetahuan dan ketrampilan
- pengalaman dan latihan
- perlengkapan berupa survival kit

2. Langkah - langkah survival

- jika tersesat lakukan tindakan pedoman STOP ( Seating, Thinking, Observation, dan Planning )
- lakukan pembagian tugas kepada anggota kelompok
- tetap berusaha mencari pertolongan
- hemat terhadap penggunaan makanan, minuman dan tenaga
- hindari dan jauhi masalah - masalah yang mungkin timbul yaitu dari diri sendiri, orang lain dan alam.

3. Kebutuhan dasar survival

a. Air

Syarat - syarat fisik air bersih yang layak untuk diminum adalah tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau. Sumber air antara lain mata air, sungai, air hujan, embun, tumbuhan ( rotan pisang, lumut, akar gantung, kantung semar ), hasil kondensasi tumbuhan, dan air galian tanah.

b. Makanan

Saat sumber makanan yang dibawa semakin berkurang, kita dapat memanfaatkan sumber makanan dari alam berupa flora ( tumbuhan ) dan fauna ( hewan ). Bagian tumbuhan yang dapat dimakan adalah buah, batang, daun, dan akar ( umbi ). Hal yang harus diperhatikan dalam mengkonsumsi tumbuhan:

- hindari tumbuhan berwarna mencolok
- hindari tumbuhan bergetah putih, kecuali yang sudah dikenal aman dimakan
- mencoba mencicipi sedikit atau mengoleskan ke kulit.. biasanya tumbuhan yang berbahaya akan menimbulkan efek gatal, merah dan panas pada tubuh
- variasikan makanan yang dimakan untuk menghindari akumulasi zat yang mungkin buruk bagi kesehatan -jangan memakan tumbuhan yang meragukan untuk dimakan.

Hampir semua unggas dan ikan dapat dijadikan sumber makanan, begitu juga dengan beberapa serangga, reptil, dan mamalia. Kendala utama untuk mendapatkan hewan - hewan liar tersebut adalah cara menangkapnya. Oleh karena itu perlu membuat perangkap ( trap ) untuk mempermudah menangkap hewan liar tersebut.

c. Shelter

Shelter adalah tempat perlindungan sementara yang dapat memberikan kenyamanan dan melindungi dari panas, dingin, hujan dan angin. Shelter dapat menggunakan alam seperti gua, lubang pohon dan celah di batu besar. Selain itu dapat dibuat dari tenda, plastik dan ponco atau menggunakan bahan dari alam seperti daun - daunan atau ranting.



d. Api

Api berguna untuk penerangan, meningkatkan semangat psikologis, memasak makanan dan minuman, menghangatkan tubuh, mengusir hewan buas, membuat tanda / kode, dan merokok. Sumber api berasal dari korek api, lup / teropong, menggosok - gosokkan kayu dengan kayu, membenturkan logam dengan logam atau batu. Ada hal lain yang menentukan lamanya kita berada pada kondisi survival, yaitu keputusan apakah kita akan menetap ( survival statis ) atau bergerak keluar mencari bantuan ( survival dinamis ).



S : Size up the situation
U : Undue haste makes waste
R : Remember where you are
V : Vanguish fear and panic
I : Improve
V : Value living
A : Act like native
L : Learn basic skill


Secara umum aspek - aspek dalam kondisi survival dibagi tiga yang saling empengaruhi dan berkaitan yaitu aspek psikologis ( panik, takut, cemas, sepi, bingung, tertekan, bosan ), aspek fisiologis ( sakit, lapar, haus, luka, lelah ), dan aspek lingkungan ( panas, dingin, kering, hujan ).

1. Komponen pokok survival terdiri atas:

- sikap mental berupa hati yang kuat bertahan hidup, mengutamakan akal sehat, berpikir jernih dan optimis
- kondisi fisik yang fit dan kuat
- tingkat pengetahuan dan ketrampilan
- pengalaman dan latihan
- perlengkapan berupa survival kit

2. Langkah - langkah survival

- jika tersesat lakukan tindakan pedoman STOP ( Seating, Thinking, Observation, dan Planning )
- lakukan pembagian tugas kepada anggota kelompok
- tetap berusaha mencari pertolongan
- hemat terhadap penggunaan makanan, minuman dan tenaga
- hindari dan jauhi masalah - masalah yang mungkin timbul yaitu dari diri sendiri, orang lain dan alam.

3. Kebutuhan dasar survival

a. Air

Syarat - syarat fisik air bersih yang layak untuk diminum adalah tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau. Sumber air antara lain mata air, sungai, air hujan, embun, tumbuhan ( rotan pisang, lumut, akar gantung, kantung semar ), hasil kondensasi tumbuhan, dan air galian tanah.

b. Makanan

Saat sumber makanan yang dibawa semakin berkurang, kita dapat memanfaatkan sumber makanan dari alam berupa flora ( tumbuhan ) dan fauna ( hewan ). Bagian tumbuhan yang dapat dimakan adalah buah, batang, daun, dan akar ( umbi ). Hal yang harus diperhatikan dalam mengkonsumsi tumbuhan:

- hindari tumbuhan berwarna mencolok
- hindari tumbuhan bergetah putih, kecuali yang sudah dikenal aman dimakan
- mencoba mencicipi sedikit atau mengoleskan ke kulit.. biasanya tumbuhan yang berbahaya akan menimbulkan efek gatal, merah dan panas pada tubuh
- variasikan makanan yang dimakan untuk menghindari akumulasi zat yang mungkin buruk bagi kesehatan -jangan memakan tumbuhan yang meragukan untuk dimakan.

Hampir semua unggas dan ikan dapat dijadikan sumber makanan, begitu juga dengan beberapa serangga, reptil, dan mamalia. Kendala utama untuk mendapatkan hewan - hewan liar tersebut adalah cara menangkapnya. Oleh karena itu perlu membuat perangkap ( trap ) untuk mempermudah menangkap hewan liar tersebut.

c. Shelter

Shelter adalah tempat perlindungan sementara yang dapat memberikan kenyamanan dan melindungi dari panas, dingin, hujan dan angin. Shelter dapat menggunakan alam seperti gua, lubang pohon dan celah di batu besar. Selain itu dapat dibuat dari tenda, plastik dan ponco atau menggunakan bahan dari alam seperti daun - daunan atau ranting.



d. Api

Api berguna untuk penerangan, meningkatkan semangat psikologis, memasak makanan dan minuman, menghangatkan tubuh, mengusir hewan buas, membuat tanda / kode, dan merokok. Sumber api berasal dari korek api, lup / teropong, menggosok - gosokkan kayu dengan kayu, membenturkan logam dengan logam atau batu. Ada hal lain yang menentukan lamanya kita berada pada kondisi survival, yaitu keputusan apakah kita akan menetap ( survival statis ) atau bergerak keluar mencari bantuan ( survival dinamis ).